Minggu, 09 Oktober 2011

Perkawinan Adat Lio

Narasumber :
Uraian perkawinan dan pernikahan dari berbagai sumber,
Perkawinan adat Lio :
·         Bpk. Paulus Lengga,
·         Bpk. Yosep Mau,
·         Bpk. Martinus Guta,
·         Bpk. Markus Mau
Ditulis oleh : Ludger Sore

Perkawinan Adat Lio
Pada dasarnya manusia adalah mahluk “Zoon Politicon” artinya manusia selalu bersama manusia lainnya “”dalam pergaulan hidup dan kemudian bermasyarakat. Hidup bersama dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang biasa bagi manusia dan hanya manusia yang memiliki kelainan saja yang ingin hidup mengasingkan diri dari orang lain. Salah satu bentuk hidup bersama yang terkecil adalah keluarga. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang terbentuk karena perkawinan.
Selain memiliki faedah yang besar, perkawinan memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membentuk suatu keluarga yang bahagia, kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini sesuai dengan rumusan yang terkandung dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 pasal 1 bahwa: “Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Sesuai dengan rumusan itu, perkawinan tidak cukup dengan ikatan lahir atau batin saja tetapi harus kedua-duanya. Dengan adanya ikatan lahir dan batin inilah perkawinan merupakan satu perbuatan hukum di samping perbuatan keagamaan. Sebagai perbuatan hukum karena perbutan itu menimbulkan akibat-akibat hukum baik berupa hak atau kewajiban bagi keduanya. Sedangkan sebagai akibat perbuatan keagamaan karena dalam pelaksanaannya selalu dikaitkan dengan ajaran-ajaran dari masing-masing agama dan kepercayaan yang sejak dahulu sudah memberi aturan-aturan bagaimana perkawinan itu harus dilaksanakan.
Perkawinan adalah ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan yang merupakan suatu pranata dalam budaya setempat yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan seksual.Perkawinan umumnya dimulai dan diresmikan dengan upacara pernikahan. Umumnya perkawinan dijalani dengan maksud untuk membentuk keluarga.
Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh dua orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara hukum agama, hukum negara, dan hukum adat. Upacara pernikahan memiliki banyak ragam dan variasi antar bangsa, suku satu dan yang lain pada satu bangsa, agama, budaya, maupun kelas sosial. Penggunaan adat atau aturan tertentu kadang-kadang berkaitan dengan aturan atau hukum agama tertentu pula.
Pengesahan secara hukum suatu pernikahan biasanya terjadi pada saat dokumen tertulis yang mencatatkan pernikahan ditanda-tangani. Upacara pernikahan sendiri biasanya merupakan acara yang dilangsungkan untuk melakukan upacara berdasarkan adat-istiadat yang berlaku, dan kesempatan untuk merayakannya bersama teman dan keluarga. Wanita dan pria yang sedang melangsungkan pernikahan dinamakan pengantin, dan setelah upacaranya selesai kemudian mereka dinamakan suami dan istri dalam ikatan perkawinan.

Dari beberapa uraian diatas kita melihat bagaimana sebuah perkawinan itu terjadi di daerah Ende Flores NTT, khusunya di daerah Lio. Seperti di daerah lainnya, orang Lio juga mempunyai tatanan, upacara dan ritual perkawinan. Bedanya nikah secara hukum adat tidak secara tertulis. Pernikahan atau perkawinan menurut adat Lio juga mendefenisikan menyatukan dua pasangan beda jenis kelamin dalam ikatan lahir dan batin secara adat. Ini terbukti dengan simbol ungkapan adat “tubu tau mula jumu lodo nda wa sea ae mesa ngara da gheta liru mera”.  Terjadinya suatu perkawinan menurut orang Lio itu karena “poi nosi nombi pera”.
Sebelum kita melihat uraiannya mari kita mengenal beberapa istilah yang sering dipakai saat menjalankan sebuah tatanan perkawinan.
1.      Jenis barang atau bahan yang akan digunakan.
·         Ngawu Wea (emas yang sudah dibentukkan untuk lokal orang Lio),
·         Eko (ekor artinya hewan),
·         doi doka (uang),
·         mbola (bakul),
·         luka (selendang),
·         lawo (sarung untuk perempuan),
·         ragi (sarung untuk laki-laki),
·         pare (padi),
·         pare isi (beras),
·         kobe sutu (malam ke empat),
·         semu r’mo (semu = minyaki kepala, r’mo = urut),
·         kea mbea (ribut dalam perkawinan kea mbea arti memberitahukan),
2.      Orang – orang yang berperanan menerima dan memberi atau para pihak.
Secara umum orang akan mengenal para pihak yang menerima dan yang memberi. Pihak yang menerima belis adalah pihak perempuan, pihak yang memberi adalah pihak laki – laki.
a.       Pihak yang menerima (pihak perempuan).
Dalam bahasa Lio lebih dikenal dengan istilah “papa simo” atau yang menerima belis. Ine (mama), ata godo (keluarga bapa), eda (saudara laki mama), ine tuka ndue (saudara perempuan mama), nara (saudara laki dari perempuan yang akan dinikahkan).
b.      Pihak yang memberi (pihak laki-laki).
Dalam bahasa Lio lebih dikenal dengan istilah “papa tu” atau yang memberi belis. Ine ema (bapak mama), weta (saudari dari laki – laki yang akan dinikahkan), eja (suami dari saudara laki-laki yang akan dinikahkan. Juga suami dari saudara perempuan bapak), doa bela (saudara serumpun), uli imu (teman dari laki yang akan menikah yang bersedia membantu dan teman dari bapak dimana bapak pernah membantu temannya diwaktu yang lalu).
3.      Jenis – jenis perkawinan
Orang Lio mengenal 4 jenis perkawinan :
3.1.         Pa’a Tu’a
Sebelum kita mengurai jenis perkawinan ini, mari kita memahami dulu arti dari perkawinan “pa’a tu’a”. Kata pa’a artinya menabung/menyimpan. Tu’a arti lurusnya kuat, dalam tatanan perkawinan tu’a adalah mama dari perempuan yang akan dinikahkan, atau mertua perempuan.
Perkawinan jenis ini terjadi karena pada generasi sebelumnya sudah terjadi suatu hubungan perkawinan. Beberapa sebab sehingga terjadi jenis perkawinan ini :
a.       Mama dari sao (rumah adat) A menikah dengan bapak di rumah adat B, saat mengurus belis dari rumpun keluarga B ke A terjadi kelebihan belis. Ini menjadi utang jiwa di rumah adat A.
b.      Saat mengurus belis perkawinan saudara laki atau anak laki dari saudara keluarga mama di keluarga A dengan keluarga rumah adat lainnya terjadi kekurangan belis, maka keluarga mama dari rumah adat A dengan istilah adat “ju rina” (meminta bantuan) maka keluarga bapak di rumah adat B akan memberikan bantuan sesuai permintaan.
Dari pilihan atau sebab diatas maka dari keluarga bapak di rumah adat B bisa menikah di keluarga mama rumah adat A dimana pihak B adalah mempelai laki – laki dan pihak keluarga A adalah mempelai wanita. Perkawinan jenis ini termasuk perkawinan “Ana E’da” (anak om / saudara laki mama), perkawinan dijodohkan.
3.2.         Dei Ngai Pawe Ate
Dei Ngai Pawe Ate (suka sama suka). Jenis perkawinan ini juga dikenal dengan istilah “dei leka kaju pawe leka ae, tei taga te’a lo ere, tei pare wole bewa jawa dupa ria”.  Karena suka sama suka atau dasar perkawinannya “cinta” maka tahap perkawinanya tidak dilalui dari  tahap awal. Tidak melalui proses masuk minta. Perkawinan jenis ini terjadi bisa karena mempelai wanita sudah hamil, mempelai laki-laki langsung tinggal dirumah perempuan dan langsung jadian.
Sekarang lebih dikenal dengan istilah “kawin masuk” dimana mempelai laki-laki akan meninggalkan keluarganya dan tinggal bersama dengan keluarga mempelai wanita. Dalam kehidupan sehari – hari sang ayah dari mempelai wanita akan mengatakan “pati topo lelo eo bosu talo, pati su’a dhawe eo lemba talo” (diserahkan tofa dan parang untuk bekerja kebun yang tidak ada habisnya). Artinya mempelai pria dengan status kawin masuk akan di bahasakan : “ko’o lo’o r’wo boko”. Bila statusnya sampai mempelai laki meninggal, maka istilah untuk orang terssebut menjadi “ka kana ru’e ngewu”.  Dalam hal belis jenis perkawinan ini diartkan juga, “tei pati duna mea”.
Perkawinan jenis ini bukan berarti yang pria tidak bisa lagi menebuskan belis. Bisa ditebus dengan beberapa syarat, diantaranya :
a.       Saat saudara laki dari sang istri/ipar/eja menikah, dimana ada bahasa “weta wa’u nara nai” (saudara perempuan keluar rumah saudara laki-laki masuk rumah), artinya dalam hal membelis semua tuntutan dari keluarga istrinya ipa/eja menjadi tanggungjawabnya.
b.      Bila mempelai sudah banyak memberi hewan atau lainnya, “dia” bisa mengeluh dan berkata, “wara ku baja r’wa, kolo ku ro r’wa”. Disini sang pria dan keluarganya sudah siap untuk membicarakan belis, ulang dari awal. Yang sudah diberikan bisa diperhitungkan dan bisa juga tidak diperhitungkan.
c.       Bila ada kematian salah satu dari istri/suami. Dari pihak keluarga laki – laki menanyakan bagaimana dengan anak – anak pasangan suami istri yang sudah meninggal. Ini akan dilaksanakan pembagian anak. Anak I dan anak II menjadi bagian dari keluarga istri. Sedangkan anak ke III dan selanjtnya menjadi bagian dari keluarga perempuan. Bila anak hanya satu atau dua maka, tergantung dari pihak keluarga istri mau bersama – sama mengakui anak atau hanya dari pihak istri yang berhak.
3.3.         Ruru gare
Perkawinan “ruru gare” (artinya pergi tanya) dengan menggunakan jasa “p’te bheto tali nao” (juru bicara), merupakan jenis perkawinan yang sering dilaksanakan diantara kedua mempelai dengan status sosial ekonomi yang mapan. Perkawinan jenis ini bermula dari kemauan sang pria kepada pasangan yang disukainya. Tidak berpengaruh apakah sang wanita mencintai dan tidak. Jenis perkawinan ini juga berakhir dengan “kolo wu eko beta” (belis tertebus habis/tuntas).
3.4.         Paru Nai
Paru nai tediri dari dua suku kata paru = lari dan nai = naik. Tapi dalam perkawinan paru nai diartikan lari dan masuk kerumah laki-laki. Perkawinan jenis ini dalam pelaksanaan belisnya tidak menjadi tuntutan. Beberapa sebab terjadinya perkawinan “paru nai” :
a.       Didasari suka sama suka
b.      Ada riwayat “pa’a tu’a”
c.       Paru polo,
d.      Tidak ada persetujuan dari salah satu pihak baik pihak laki maupun pihak perempuan.
e.       Sang laki-laki mau dijodohkan oleh orang tuanya atau sebaliknya, dan sebab lainnya.
Maka mempelai wanita meninggalkan keluarganya kerumah laki-laki dan menikah dengan pilihannya.
4.      Urutan tatanan perkawinan dan jenis belisnya
4.1.         Pe’i tangi  l’su usu (sandarkan tangga buka kunci pintu)
Tahap ini sekarang dikenal dengan istilah gantung baju. Jenis belisnya “sa liwu sa eko” artinya ada 1 liwu ngawu dan 1 ekor hewan. Besar kecilnya tidak dituntut. Tahap ini mempengaruhi tahap selanjutnya. Dimana sangat berpengaruh terhadap kewibawaan laki – laki.
4.2.         Mbabho weli (membicarakan belis)
Pihak yang memberi akan mendengarkan tuntutan dari pihak yang menerima. Tuntutan secara umum berupa ngawu wea dan eko (emas dan hewan) dengan uraian sebagai berikut :
1.      Pe’I tangi l’su usu         : sa liwu sa eko
2.      Ine                                : sa liwu sa eko
3.      Ata godo                      : sa liwu sa eko
4.      Ine tuka ndue               : sa liwu sa eko
5.      Eda                               : sa liwu sa eko
6.      Nara                              : sa liwu sa eko
7.      Nika                              : sa liwu sa eko
8.      Wata tangi usu p’ne      : sa liwu sa eko
Total “Liwu rua mbutu eko rua mbutu”
4.3.         Tu Ria
Sesuai kesepakatan bersama, waktu yang sudah ditentukkan untuk mengantar belis atau tuntutan keluarga wanita maka semua yang ada akan diantarkan ke pihak perempuan.
4.4.         Nika
Sekarang sudah sangat terpengaruh dengan seremonial pernikahan sesuai dengan agama yang dianutnya. Tapi secara adat akan dijelaskan seperti ini :
“sejak sang pria masuk kerumah wanita dan menginap (tidur bersama), orang tua akan memberi tikar dan bantal “soro te’e no’o lani”, Ina te’e tau nggole lani tau pidhi kolo. Ini dihitung dari malam pertama sampai malam ke-4 dimana sang pria maupun wanita tidak diperbolehkan keluar rumah. Setelah malam ke-4 maka dilaksanakan “lulu te’e” (gulung tikar), juga dilaksanakan “rio rasi, semu kolo r’mo weki tebo”. Selanjutnya diberitahukan ke masyarakat umum “kea mbea” sudah menikah kedua mempelai. Maaf ritual ini dipenggal atau tidak semua terurai detil disini.
4.5.         Tu genu w’na
Sekarang lebih dikenal dengan sebutan “tu genu are”. Banyak yang mengatakan atau memahami secara lurus bahwa “tu genu w’na” itu artinya mengantar sisa makanan ke keluarga sang pria. Ini dilaksanakan sejak awal terjadi atau tiap kali dilaksanakan pertemuan dari tahap awal pembicaraan adat atau lainnya dari para pihak. Tu genu w’na juga mempunyai makna :
a.       membagi rasa antara kedua rumpun keluarga.
b.      menyampaikan kepada pihak keluarga laki-laki bahwa mereka diterima dengan baik oleh keluarga perempuan.
Bahan – bahan utama untuk pelaksanaan “tu genu w’na yakni :
a.       are mami sambola (nasi 1 bakul)
b.      beras 1 bakul
c.       nake mami (daging yang sudah dimasak),
d.      nake m’ta (daging mentah)
ritual ini dilaksanakan setelah berakhirnya pembicaraan atau pertemuan kedua keluarga. Bayangkan kalau berakhirnya tengah malam, maka keluarga perempuan akan mengantarkannya juga pada malam tersebut. Semua jenis perkawinan dilaksanakan acara “tu genu w’na”.
4.6.         Tu ana
Tu ana (mengantar mempelai wanita) dilaksanakan setelah selesai belis dan ritual pernikahan. Tidak semua jenis perkawinan diakhiri dengan “tu ana”. Yang bisa dilaksanakan seremonial ini adalah jenis perkawinan “pa’a tu’a dan ruru gare”. Sedangkan jenis perkawinan “paru nai dan dei ngai pawe ate” tidak dilaksanakan seremoonial ini. Alasannya “kontak person 081337415776”.
Yang dilaksanakan oleh pihak keluarga saat acara “tu ana” adalah “regu pata”.
4.7.         Wata tangi usu p’ne
Ini merupakan tahap akhir dari proses pembelisan atau acara pernikahan. Tidak terjadi pada perkawinan jenis “dei ngai pawe ate”.

Silahkan membaca dan jangan lupa komentarnya,…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Yang berkunjung malu kalo pulang tanpa komentar, hehehehehe